Lintas Rasa Lombok Sumbawa

Injak tanah nya
Hirup udara nya
dan Rasakan cinta nya

Tulisan ini tentang perjalanan lintas Lombok Sumbawa demi mendirikan sebuah perpustakaan di kaki gunung Oibura di bawah gunung Tambora.

Malam itu di satu kedai di ibukota Jakarta, gue dan temen-temen membahas rencana pendirian perpustakaan kecil di suatu daerah terpencil. Desa Oibura namanya. Letaknya di kaki gunung Tambora, di Sumbawa. Diskusi berlangsung serius tapi santai. Gue mendengar dengan seksama dan sesekali mengeluarkan pendapat.

" Siapa yang mau ikut ke Oibura ? " kata Diki, si pencetus gerakan.

Sebagai penggiat petualang yang belum banyak pengalaman bertualang, gue engga menunggu untuk mengacungkan tangan. Gue mau kesana. Lebih dari satu-dua alasan kuat. Gue belum pernah ke Lombok atau Sumbawa, gue mau menjelajah dan melihat apa yang ditawarkan disana. Dan gue selalu suka kegiatan-kegiatan sosial, terutama tentang pendidikan. Gue percaya membaca, belajar itu bisa membuka banyak pintu kesempatan. 

Beberapa minggu setelahnya, enam dari kami sudah ada di Mataram dan menyusun lebih dari 300 kilogram buku di dua Avanza yang kami sewa. Konon perjalanan ini akan memakan 24 jam untuk sampai ke desa Oibura. 

Kota Mataram keliatan tenang dan nyaman, ketika gue liat dari pesawat sebelum mendarat. Gue merasa seperti itu juga ketika melintasi jalan-jalan kota Mataram di pagi hari itu. Dengan intensitas matahari yang pas juga, serta udara yang belum tercemar polusi.

Sisi kiri kanan jalan dari kota Mataram menuju pelabuhan Kayangan dihiasi dengan sawah hijau terang dan di sisi utara terlihat gunung Rinjani. Gue yang tadinya berencana tidur, jadi hanyut sama pemandangannya, ketenangan jalannya, dan engga jadi tidur. 

Nilai pemandangannya mengganda ketika ferry dari Kayangan hampir sampai di pelabuhan Poto Tano di Sumbawa. Ujung ujung daratan yang kelihatan sebelum daratan besarnya, menyajikan bukit hijau rerumputan dengan hewan-hewan yang sedang menikmatinya juga. Domba dan beberapa kuda terlihat sedang makan. Gue sedikit lagi jadi mau bilang ke temen-temen, apa abis berlabuh kita bisa main ke bukit itu sebentar?

Pelabuhan Poto Tano. Dari celoteh4ti.wordpress.com/


Tapi kemudian gue sadar kalo kemungkinan besar, sepanjang perjalanan akan ada pemandangan yang sama. Dan gue bener ! bukan cuma bukit ijo alus, ada juga danau besar yang merefleksikan langit biru dengan awan-awan putihnya. Emm,,temen-temen, kapan kita berhenti nya?

Tapi karena jadwal kegiatan yang agak padat, Diki memutuskan untuk menunda berhenti kecuali untuk makan siang. Gue ngerti juga sih. Kami pun terus jalan.

Surga

Ketika sudah 20 jam kami mengemudi dan ketiga orang di setiap mobil sudah dapat giliran mengemudi semua dan semuanya sudah mengantuk, kami memutuskan untuk berhenti dan tidur. Kami engga begitu tahu ini dimana persisnya, tapi sudah tidak terlalu jauh dari tempat tujuan. Mungkin sekitar 8 jam lagi. Kami menepi dijalan yang tidak terlalu kecil. Mencoba memarkir dengan aman, walaupun sudah 4 jam terakhir kami tidak bertemu dengan kendaraan lain. Setelah mobil di parkir, gue keluar untuk merenggangkan badan. Saat itu jam 3 atau jam 4 subuh.

Bagian buminya memang gelap gulita dan tidak ada lampu. Tenangnya maksimum, terdengar suara jangkrik dan hewan lain. Dan kelihatannya kami ada di suatu padang, karena tumbuhannya tidak tinggi. Tapi ketika menengadah ke langit, kepala saya tidak turun untuk waktu yang lama.

Bintang bertaburan terlalu banyak untuk dihitung. Terlalu luas hingga ujung timur ke ujung barat. "Ini tempat apa?", gue nanya dalam hati. Menyebut nama tuhan lebih dari sekali. 

Pelukis mu agung.

Sambil berbaring dikursi belakang, kaca nya gue buka setengah sehingga pemandangan ajaib itu masih kelihatan sampai gue tertidur. Mungkin pemandangan sebelum tidur yang paling bagus yang pernah gue alamin.

Bangun sekitar jam 6 pagi, terkena sinar matahari yang belum lama juga terbangun dan menyorot seperti lampu super terang. Kami bangun hampir di waktu yang bersamaan. Pemandangan sekitar yang tadinya gelap gulita sekarang sudah terlihat jelas sekali. Kami tidak tau tempat seperti apa ketika kami berhenti tadi malam, tapi pagi ini, kami jelas memilih tempat yang lebih dari sempurna.

Sambil membuka pintu mobil, gue melongok keluar. Mengucek mata, sesekali memicingkannya. "Ini tempat apa sih?" gue nanya dalam hati sekali lagi. 

Padang rumput hijau terhampar didepan mata. Di sebelah barat dan disebelah timur kami. Di kedua sisi jalan. Langit biru cerah menjadi  atapnya. Pepohonan berukuran sedang tidak terlalu banyak, namun menjadikannya unik dan pemanis. Gunung Tambora berdiri kokoh di sisi timur laut. Kuda-kuda, domba-domba, sedang makan rumput dan tidak sadar akan kehadiran kami. Kerbau-kerbau sedang mandi di kubangan di belakang semak.

Indonesia tanah air beta.

Semua anggota perjalanan ini berdecak kagum. Gue sampe lari kearah domba-domba yang lagi makan. Lalu salto. Lalu tidur di rerumputannya. Terlalu menikmati, mungkin itu kata yang tepat. Ini lukisan yang menjadi nyata. Lukisan alam Sumbawa, bung !

Sampai di desa Oibura 6 jam kemudian, gue masih memikirkan pemandangan itu. Eh bukan, mungkin sampai sekarang, 2 tahun setelah perjalanan itu, gue masih bisa membayangkan dengan jelas.

Keramahan di kesederhanaan




Desa ini mungkin hanya punya 30 keluarga, listrik desa yang berasal dari genset dan dinyalakan hanya jam 7 sampai jam 9 malam saja, dan sinyal telepon sangat sulit didapat jika tidak naik ke dataran yang lebih tinggi, tapi semua penduduknya ekstra ramah. Anak-anak mengajak kami bermain. Warga desa bantu membantu membuat lemari kayu untuk tempat buku. Kepala desa yang humoris.

Rasa alamnya juga sangat kental disini. Tidak jauh dari desa, gue main sama anak-anak di Sori Sumba (sungai Sumba). Sungai kecil yang airnya bersih banget. Pemandangan langit yang penuh bintang lagi. Sesekali melihat ular kecil ketika jalan di malam hari. Dan udara dingin ala kaki gunung. Gue ngerasa beruntung banget bisa dapet kesempatan datang kesini.

Dalam 3 hari, pembuatan lemari, pengecatan, pengaturan buku sudah diselesaikan, kami pun langsung membuat perayaan kecil bersama kepala desa. Mengajar selama beberapa jam di SD negeri Oibura. Sekolah sederhana yang punya 5 ruang kelas, untuk kelas kelas 1 hingga kelas 6. Lalu sore nya kami berpamitan. Karena misi sudah selesai.

Lombok dan pesonanya

Kembali dari misi yang berjalan lancar, semua anggota tim pulang, ada juga yang melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Tapi gue memutuskan untuk tetep di Lombok dan mencicipi rasa-rasa bahagia yang ada disana. Dalam 5 hari, gue main ke Kuta Lombok, salah tau gugusan pantai terindah yang pernah gue datengin. Berdiri di Tanjung Aan dan menatap pasir putih dan toska laut didepannya. Tidak mungkin untuk tidak bersyukur, ditempat seperti ini.

Ketiga saudara kembar Gili Terawangan, Gili Meno dan Gili Air juga pesona yang sama menawannya. Terawangan itu ramai tapi terjaga sekali kebersihannya. Bermain bersama penyu di Turtle Point. Lalu duduk santai dibawah pohon di pantai di Gili Air. Dimana jumlah wisatawannya jauh lebih sedikit sehingga ketenangannya lebih terasa.

Lombok Sumbawa membawa banyak cerita. Itu pun belum mendaki gunung Rinjani, atau melihat pink beach yang ada di Lombok Timur. 

Satu yang pasti, ini tidak akan jadi sekali dan terakhi kalinya gue dateng kesana.


Bergen dan Bukitnya

kota Bergen yang berbukit
Suatu sore yang nikmat di meja kantor di ibukota Swedia yang menyenangkan, skype tetiba kelap kelip. Roby si rumet gue ngabarin kalo ada tiket Norwegian ke Bergen yang murah, dari jumat sampe minggu. Divisi saringan di otak gue langsung bekerja dengan sigap. Apa jalan-jalan ke Bergen itu keputusan yang baik? sebenernya abis Mei kemarin ke Interlaken, Swiss, (ke Bergen bulan juli), semua keinginan jalan-jalan gue sirna. Rasanya pengen aja terus-terusan inget perjalanan di kota itu. Bagus banget sih. Dan sejak itu juga gue jadi sadar kalo gue lebih tertarik jalan-jalan ke alam daripada di kota.

Bergen itu,
- Kota kedua terbesar di Norwegia. jadi termasuk kategori kota
- Harga harga lebih mahal dikit dari Swedia
+ Ada bukitnya
+ Harga tiket lagi murah

Sore nya si rumet ngasih bahan bahan pertimbangan. Mungkin dia bisa telepati, jadi tau kalo gue lagi mikirin apa ada alam disana, dia ngirim brosur digital tentang peta Floien, salah satu bukit di kota Bergen. Sebelumnya gue sempet liat peta kota Bergen di Google Map. Itu hal pertama yang gue lakukan kalo gue lagi mempertimbangkan, liat apa ada banyak bukit, atau air (danau, sungai) di sekitarnya. Nah si Bergen ini ada dua bukit di dekat kotanya, Floien dan Ulriken. Floien sekitar 400an meter, dan Ulriken 632 meter, ngga terlalu tinggi. Nah di peta si robi ini, ada 10 jalur trekking, diurut berdasarkan kesulitan termudah. Rute nomor 10 nya itu menarik banget. 18 km, mulai dari Floien, nembus ke Ulriken. Pas gue baca, gue langsung, "wow ini menarik", pengen nya ngomong gitu dalam bahasa Swedia, tapi karena gue masih bisanya cuma satu dua tiga doang, jadi ya kembali ke bahasa ibu aja. Nah jadi si rute nomor 10 itu dapet 2 bukit sekalian, dan tertulis, "diffulty : moderate/hard" , wow ini lebih menantang lagi. Ga lama setelah itu gue udah berkutat dengan website pembelian tiket pesawat. 

Apa bisa gue jalan 18 km naik turun bukit sambil puasa?

Tantangannya lumayan sih. Udahlah di eropa utara ini puasa 20 jam, lalu nanti akan jalan jauh dan naik turun dan ga sedikitpun bisa minum. Karena gue orangnya suka menantang diri (ngga termasuk yang berbau tinggi, atau hantu, itu gue paling pengecut se-pancoran), gue memutuskan untuk hajar aja. rencana gue adalah mau bawa bekal nanti selama trekking. kalau udah ga memungkinkan, gue pasti makan dan minum dan membatalkan puasa.

Sampai di Kota Bergen yang Berbukit

jumat sore sekitar jam 3 kami sampai di Bandara. oh ya selain gue dan rumet, ada juga si Ivan. dia udah beberapa kali jalan bareng sama gue, terakhir ke Milan. dia lumayan awesome  karena siap menerima hal baru. Lanjut, dari bandara naik bis ke pusat kota. sekitar 25menit-an gitu. Dan ternyata jauh lebih kota daripada yang gue kira. di terminal bis sepandang mata memandang, rumah aja yang keliatan. Untung ada bukit menghias di ujung ujung kota. Jadi masih ada ijo nya dikit. 

Dari terminal bis kan kami mau ke rumah Thomas, nginep nya disitu. Di peta, keliatan kami akan ngelewatin satu taman, bagus kan tuh harusnya. pas kami lewat ada bule lagi jogging, ngeliat kami dengan heran, trus dia berenti, "This is not a good place for tourist", gue cuma melongo aja. "hah?" sambil jalan lagi, di ujung mata keliatan ada orang lagi nyuntik. ada yang kumpul kumpul dengan kaya setengah sadar. Pas sampe di rumah Thomas, baru dia cerita, itu taman yang banyak orang pake narkoba. gue langsung namain itu "Taman Narkoba", dan ga lagi deh lewat situ. Untung aman tadi ga disuruh beli, nyoba, atau gimbalin rambut. 

bale bale bunga
Sore itu sampe malem kami keliling kota, ke blue square, air mancur kota, ada bale-bale bunga gitu juga. asik deh. udah gitu kayanya panasnya sampe 29 derajat celcius. panas banget, tapi karena selama ini di eropa utara dingin terus, gue jadi menikmati panas kaya gini. bibir pun sumringah terus. maklum uda setengah bule, kalo gue ga item gini pasti uda berjemur dari tadi kaya bule bule.

Ambil peta di pusat informasi Bergen, trus pulang dan masak untuk buka puasa. trus tidur deh. Oh kamar kami ini di loteng gitu kan, ada bagian atapnya yang jadi kaca, bisa digeser, jadi bisa liat langit. keren ! 

Setiap perjalanan biasanya gue punya misi. dan misi gue kali ini ada dua. trekking rute no.10 di Floien dan sepedahan ke selatan. karena kami pulang minggu malam, jadi trekking gue jalanin sabtu, dan sepedahan hari minggu. rencana yang awesome

Oiya dalam perjalan kali ini gue juga membawa serta si ninja keren gue, si Kakashi. dia udah minta ikut dari kapan tau. kayanya sempet marah juga karena ga diajak ke swiss. Kali ini dia minta ikut, PLUS mau di highlight di album foto. BM banget. (banyak mau)

rute nomor 10

sabtu paginya kami keluar bareng dari rumah. tapi roby dan si ivan hari ini akan cruise, berkapal pesiar di sungai Norwegia. kalo pada belom tau, Norwegia itu terkenal banget sama Fjörd nya. Fjord itu sungai yang kalo kita naik kapal disitu, kiri kanannya diapit gunung gunung tinggi yang indah. Sungainya ini pun ga cuma di deket laut, tapi menjangkau daerah dalam Norwegia. sesuatu yang awesome deh pokoknya. Nah tapi karena itu ga masuk misi gue, atau lebih tepatnya karena untuk cruise itu satu orang ongkosnya 500 NOK (norwegian kronor), gue memutuskan untuk tabungin aja duit itu ke rekening siap kawin gue, dan trekking aja, yang gratis.

Naik ke Floien pake cable car, lift lift kereta gitu. diatas main main bentar sama ivan dan robi. foto-foto sama Troll (boneka kurcaci ala mitos eropa utara). Jam 1 tepat kami pisah. Mereka turun ke Bergen lagi, dan gue menarik nafas panjang, ngatur posisi peta di kantong agar mudah dijangkau, dan mendudukkan kakashi diantara punggung dan tas gue. Mulailah gue di jalur nomor 10.

seperti selama ini gue trekking, pasti dimulai dengan jalan besar dulu. kira kira mobil masih bisa lewat. walaupun gitu sih, jalanan udah langsung, ngga gitu curam kok. Di beberapa tebing yang menghadap ke pemandangan terbuka, selalu ada tempat duduk yang manis. ini keren banget sih kalo menurut gue. bisa untuk istirahat, atau untuk duduk-duduk cari inspirasi. Dan ga ketemu tuh sampah sampah kaya botol aqua, atau kertas tisu. bersih. 

Setiap papan penunjuk selalu gue perhatiin, ngecek agar jalan ga salah dan gue suka membiasakan ga selalu liat peta. Satu ketika ada papan yang tulisannya bukan arah bukit tapi bahasa Norwegia yang gue gatau artinya. arahnya yang ditunjuk ngga sama dengan arah tujuan gue, tapi gue entah kenapa merasa mau ngecheck. akhirnya gue jalan ke arah si penunjuk itu. Eh rupanya ada danau. bagus lagi, posisi mataharinya pas, sehingga mendukung untuk foto yang azik.

danau yang pantulannya azek
Gue juga berenti sebentar untuk merhatiin foto yang barusan gue jepret. Mungkin ga sih si Dai ini sebenarnya emang hidup? Dai itu nama kamera gue. agak animisme memang, gue namain benda benda favorit gue. Tapi dari waktu awal megang Dai, kualitas jepretannya sekarang kok tambah bagus. Malah beberapa sesi terakhir ini gue ga ngedit fotonya sama sekali. Jadi mikir, mungkin aja dia itu kaya di game RPG (role playing game, petualangan), makin sering dipake, makin nambah level. Ah sudahlah.

base pertama akhirnya sampe juga. Brushytten. Kabin kecil dibawah bukit yang tinggi. Dari arah rumput rumput ada bunyi lonceng2, bikin gue nengok kesana. ternyata ada domba domba lagi pada makan. loncengnya ada di masing masing domba. krincing krincing. domba yang awesome. lebih awesome lagi kalo ditambah "guling" dibelakangnya.

kali ini jalanan nanjaknya dengan bukit di kanan, tapi di kiri pemandangan terbuka. ada danau besar dibawahnya. tinggi. jadi gue jalan di kanan banget jalan. ya untuk jaga jaga aja, kita kan harus selalu hati hati di negeri orang. trus baru gue ngomong gitu dalam hati, ada anak kecil dengan riang main main di pinggiran tebing di kiri itu, ktawa ktawa. oke fine, itu faktor genetik bule *masih pembelaan*

pemandangan yang awesome

di satu bagian bukit, gue liat di bukit yang lebih tinggi ada batu bertumpuk gitu, ada banyak bule lagi berdiri disitu. gue kira itu adalah salah satu landmark. ada fotonya juga di website website review Bergen. jadi gue juga naik ke atas situ dan foto itu batu bertumpuk. kita sebut aja BB biar hemat huruf (prinsip sms jaman dulu). danau danau mulai semakin banyak. Dan dengan cuaca begini pun, diatas bukit banyak angin, jadi pas banget. alhamdulillah.

papasan dengan bapak dan anak cowonya yang lagi sepedahan. gue pikir, wih keren juga nih bapak-anak, jalanan berbatu gini dia hajar juga. 2-3 km dari pas ketemu mereka, papasan lagi sih, mereka balik arah. gue mencoba untuk positif thinking, mungkin mereka bukan nyerah, tapi emang cuma iseng tektok. atau mereka mau mata-mata-in gue?

bukit bukit hijau dengan rumput halus keliatan di jauh. pemandangan nya makin indah. gue mulai makin sering jeprat jepret. si kakashi pun merengek minta difoto. 



rutenya lebih sulit dari yang dibayangin ternyata. beberapa jalan itu batu banget dan ada tanjakan dan turunan yang curam sampe harus manjat atau meluncur pegangan. makin tinggi naiknya, makin keren pemandangannya. arahnya pun ga gitu susah karena ada papan penanda. dan si BB, batu bertumpuk yang kirain landmark, ternyata banyak dimana mana ada, dijadiin sebagai penanda rute pula lagi. 

oiya lupa cerita, si Bergen itu juga terkenal sebagai kota hujan. konon katanya curah hujannya itu 200 hari pertahun. lebih dari setengah tahun kan tuh. Uda gitu bukan jenis hujan di Stockholm yang malu malu dan untuk orang indonesia cuma dikategorikan gerimis, katanya disini hujannya lebat. kaya di Jakarta. Gue pun sebagai pejalan kaki kacangan, mau juga mengantisipasi kemungkinan kalo hujan pas gue lagi jalan diatas bukit. karena tempat neduh ga ada, pohon pun ngga ada. jadi gue bawa plastik gede di tas, handuk, dan pakaian ganti. skenarionya, kalo hujan ditengah jalan, gue lepas spatu dan masukin ke plastik, trus taro tas. dan abis hujan reda dan gue basah kuyup, gue pake spatu lagi, keringin badan, dan ganti pakaian kering. awesome kan tuh. (padahal biasa aja). ya pokoknya lebih mending daripada gada, atau daripada pake garem ala pawang hujan.

Karena danau diatas sini itu ada dimana-mana, dan semuanya bening, cakep, sekali lagi animisme gue muncul dan bagi gue, mereka itu memanggil-manggil untuk diceburin dan diberenang-in. gue pun uda bawa setelan untuk renang sebenarnya. Dalam pikiran gue, panas panas gini renang di danau kan seger. Ternyata eh ternyata, di semua danau diatas bukit, ada larangan berenang. karena semua danau disini adalah sumber air minum bagi kota Bergen. oke fine, alasan yang masuk akal. Gue cuma duduk duduk aja deket danau nyanyi lagu ninja hatori.

Udah sekitar 5 jam dari gue jalan di awal tadi. Udah berhenti dua kali untuk istirahat. si BB tadi itu berguna juga ternyata. Karena matahari di satu sisi, sisi lainnya itu adem dan bikin bayangan yang lumayan panjang. Akibatnya, gue pun bisa rebahan di bayangan itu dan memandang awan di atas berjalan. Damai, kak. 

Ditengah jalan, peta gue bilang kalo ada satu bukit yang tertinggi di Bergen. Kalau Ulriken itu 632m dan sering disebut sebagai puncak tertinggi di Bergen, tapi sebenarnya spot ini 642m, lebih dikit, cuma karena letaknya ditengah dan sulit dijangkau, jadi sering disebut ulriken yang tertinggi, mungkin karena ada cablecar dari Bergen kesana, jadi bagus dan membanggakan untuk turis. mungkin lho ya. 

Di spot 642m ini ada plakat di batu bertumpuk. Bahasa Norwegia, jadi gue ga mengindahkan untuk mengartikan. Sempet duduk disana bentar sambil denger lagu. Kaki uda mulai goyang goyang kecil.


kakashi bergaya di jalan

bule bule bersantai di pinggir tebing
Mulai sampe ke teritori bukit kedua, yaitu Ulriken. ini udah lebih dari setengah jalan nih. Tadi dijalan sempet ketemu beberapa hal menarik. Ada domba domba lagi minum air di danau. Ada yang lagi makan rumput di tepian tebing, curam dan disenggol dikit jatoh sebenernya, tapi dia santai aja makan dengan mata kebuka setengah. ngeliatin gue dengan ga takut. kalo gue ga buru-buru dan jago manah, mungkin uda gue panah dan jadi gulai tuh. oh no, ini akibat puasa. 

Ada juga pas gue lagi turun pelan pelan di sebuah turunan curam, ada bapak sama dua anaknya yang masih kecil. ini anak super kali yak, gue uda cape gini dia masih seger aja. Trus ada juga mas-mas yang bingung. papasan dijalan, dia bawa sepeda, dia nanya gue, "eh ini jalanannya bebatuan terus kaya gini ya?". gue merasa beruntung jalan kaki dan bukan naik sepeda. dengan bukit dan jalanan batu kaya gini, banyak yang mengharuskan kita angkat-angkat sepeda. Gue jawab dia dengan jujur. "iya sebenernya masih agak jauh lagi exit floien nya", dia cuma geleng-geleng. gue semangatin juga sih. semoga berhasil bang!

Ulriken sebentar lagi tapi jalanan bukan makin oke malah makin batu. dan penanda jalan juga kok ilang ya. gue sempet nyasar bentar. untuk ketemu domba lain yang mengembik-embik, dan gue mentranslatenya sebagai pemberitahuan salah jalan. Batu nya makin bikin mau koprol turun dari Ulriken. Udah hampir jam 8 sore (karena musim panas, jadi magribnya baru jam 10 lebih nanti) dan gue masih belum selesai ini trekkingnya.

Dengan segenap kemampuan dan kaki yang udah nangis kalo dia bisa nangis, akhirnya sampai juga dibawah dan kota Bergen lagi. Alhamdulillah. Deprok bentar di rerumputan. ternyata kalo kita yang pijit betis sendiri itu ga ngaruh ya. 

Jam 10 tepat akhirnya sampai di rumah lagi. udah pasti ga ngelewatin taman narkoba lagi kali ini. Tepat pas jam buka puasa. Nikmatnya ! dan gue seneng ternyata sanggup juga puasa puasa jalan jauh gitu. Plus pemandangan tadi itu sesuatu banget. Foto di Dai gue ulang ulang liatnya. adem. Dan karena gue orangnya kalau ada yang nikmat, gue milih untuk diam dulu dan menikmati, jadi gue membatalkan rencana sepedahan di hari minggu nya. mau tetep main sama kenangannya dulu. #azek

terima kasih sudah membaca !

domba (guling)

Taman Nasional Fulufjället

pemandangan sore di Fulufjället

Sejak gue migrasi sebentar sebagai TKI di Stockholm ini, gue mulai terpengaruh gaya hidup sehat orang-orang sini. Mulai dari jalan kaki, olahraga, makan sayuran, kurangin mecin, termasuk jalan jalan di hutan. Iya orang sini bikin sedemikian rupa hingga banyak hutan hutan besar sampe kecil yang bisa kita jalan-jalan-nin. Atau bahasa kerennya, Hiking. 40 menit dari kota Stockholm aja, ada Taman Nasional (TN) yaitu hutan besar yang keliling rute panjangnya bisa 45 km. Karena gue orangnya ngga gampang puas, gue pun mulai cari cari lagi tentang hutan-hutan lain yang ada di Swedia. Ternyata mereka punya sekitar 24 Taman Nasional. Ada yang kecil, ada yang gede. Lokasinya aja paling yang agak jauh dan kadang gada transport, atau mungkin juga karena gue nya aja yang pelit dan ga mau keluar duit.

Singkat kata, ada nih satu Taman Nasional yang kayanya oke banget, namanya Fulufjället. Iya a nya emang harus ä gitu. Biar keren. Dan itu dibacanya kira kira, fulufiyelet. Azek banget ga tuh. Lokasinya di Swedia tengah bagian barat, yang nyambung ke perbatasan Norwegia. Kenapa Taman Nasional ini spesial? Ada dua alasan utama. Pertama, disitu ada air terjun tertinggi di Swedia, namanya Njupskär. Kedua, ada pohon tertua di dunia. Versi asli, bukan versi on-the-spot. Nih liat disini. Umurnya 9550 tahun men ! 

Jadi dari waktu gue tau soal dua faktor itu, gue uda pengen kesana. Cuma selalu aja ada kendala yang menghambat (baca:bokek). Sampai satu ketika di sore hari, temen gue ngepost, ”Gue weekend ini kosong nih, pengen deh coba jalan ke hutan di luar kota. Enaknya kemana ya?” , gue melihat ini kaya melihat secercah harapan, dan juga tanda dari tuhan. Ini mungkin takdir gue, di kode-in supaya gue jalan. 

berangkat menuju Fulufjället

Jumat siang itu berbekal izin pulang cepet dari bos gue, gue sama Pablo naik kereta dengan riang. Dari Stockholm menuju Mora. Dari Mora lanjut naik bis menuju Särna. Itu kota terakhir yang ada halte bisnya, dari sana masih 31 km lagi menuju pintu gerbang Taman Nasional Fulufjället. Si Pablo ini mahasiswa asal Madrid, Spanyol, yang lagi magang di satu kampus di Stockholm. Tingginya segue, kurus juga kaya gue, tapi jelas, dia lebih putih. Gue ga sedih, karena ini Stockholm, makin item makin eksotis. 

rumah rumah cakep di sekitar Mora

Kami turun bis jam 1830. Agak dingin juga ternyata, karena dia datarannya lebih tinggi. Untung matahari musim panas lagi mentereng, jadi menghangatkan. Rencana awal kami mau jalan kaki sampai ke dalam Taman Nasional, mungkin sekitar 4 jam, tapi untungnya ada Sebastian, salah satu staff Fulufjället yang mau jemput kami di Särna. Nah ngomong-ngomong jalan kaki 4 jam, mungkin beberapa dari kalian bertanya, ”Puasa puasa jalan kaki?” , oh tentu saja. Berpedoman ”puasa jangan dianggap puasa” oleh ustadz siapa itu gue lupa, gue tetep puasa walaupun trekking kek, hiking kek. Mamah, bangga sama aku kan mah?

Sebastian ngeliat kami dengan muka heran, trus dia nanya, ”kalian mau hiking dengan perlengkapan gitu doang?”. Ya memang kami setelan nya setelan turis turis ABG gitu. Kaos, training, sepatu lari, tas sekolah yang isinya bekal. Yah mau gimana lagi, sepatu gunung ga punya, carrier juga ngga, dan lagian minggu kemaren trekking di Bergen Cuma pake setelan yang sama juga uda berhasil. Keep it simple, kalo kata Einstein.

Sampe di pusat informasi dan pintu masuk taman nasionalnya, kami dikasih peta sama Sebastian. Dan juga salah satu info terpenting : lokasi si pohon tertua didunia. Soalnya memang lokasi tepatnya ngga di publikasikan di peta, atau di internet, sedangkan taman nasional ini gede banget. Pas dia membulatkan lokasi kira kira nya, jantung gue deg-deg-an tapi seneng. ”Pohon tertua baby, gue akan datengin lo segera”. 

Masih jam 8 kurang dan kami ada waktu sebelum menuju kabin untuk istirahat, jadi gue dan Pablo memutuskan untuk menemukan misi pertama kami : Air terjun tertinggi di Swedia. Iya semua hal itu seru kalo pake misi, kayak ninja juga kan. Misi kami di taman ini ada 3. Air terjun tertinggi di Swedia, Pohon Tertua di dunia, dan titik tertinggi di taman nasional ini. Setelah lihat peta, air terjun Njupskär nya ngga jauh dari pusat informasi, sekitar 3 km aja. Kami langsung jalan menuju kesana. 

bang atu di air terjun
Suhu mungkin sekitar 16 derajat, dingin. Langit ngga sebiru siang tadi, mungkin karena ini dataran tinggi. Jalan di taman ini masih bagus di awal-awal. Mereka pasang batang kayu sebagai jalan agar pengunjung ngga menginjak-injak tanaman. Turun, naik, lalu ada sungai deras dengan suara air yang kuat uda kedengeran di kejauhan. Ketika berhenti di satu spot untuk memotret si air terjun, gue disentuh oleh sentuhan yang udah lama ga gue rasakan. Nyamuk! Di Stockholm di area hutannya memang ada sih, tapi di kota aman aman aja jadi gue sering berkesimpulan klo Swedia bebas nyamuk. Never been so wrong. Di taman nasional ini banyak ! dan seiring perjalanan selalu ngikutin. Ini juga bikin gue sama Pablo yang tadinya mau tidur di wind shelter doang, jadi fix memilih kabin walaupun bayar dikit.

Air terjun nya keren ! yah ga setinggi dan sebanyak yang ada di Indonesia sih. Gue makin sadar kalo alam Indonesia itu makjinang banget. Keren abis. Tapi ini juga tertinggi di Swedia, jadi gue harus berpikir cara lokal. Jepret sana sini. Duduk menikmati suaranya sebentar, lalu gue sama Pablo jalan lagi. 

Di jalan sering ketemu aliran air dan jernih sekali. Sebastian bilang bisa diminum, air dimana aja di Taman nasional ini. Keren banget kan. Ada satu spot juga yang malah disediain gayung untuk nyerok airnya. 

rumah kami

meja makan
Si kabin ini, dan hampir semua bagian taman nasional ini, rupanya berada di ketinggian sekitar 900m, jadi dari bawah air terjun itu, dimana Cuma sekitar 700m an, kami naik bukit. Jam 9-an, puasa 20 jam, naik bukit itu rasanya memang penuh tantangan. Tapi ini itungannya injury time, atau waktu waktu hampir buka, jadi energi ekstra ada. Aman! Dari ketinggian kami liat belakang dan pemandangannya asik. Alhamdulillah. Malah ada satu spot di gunung itu yang masih ada salju kerasnya. Padahal kan ini summer yah.

Kabin nya keren ternyata. Anget, terbuat dari kayu, dan ada dapur nya. Malah ada makanan dari orang juga, mungkin yang masih bagus dan bisa dimakan. Kaya biskuit gitu, susu, coklat. Walaupun gada listrik dan cucian piring, malah ini bikin jadi seru. Handphone dan kamera harus dihemat batrenya. Ada 6 kasur sederhana. Mandi juga nimba di danau. Oiya kabin kami itu diaput dua danau. Jadi indah. Pas kami sampe udah sekitar jam 2130 jadi udah mau buka puasa ! nyam. Gue pun ambil posisi.

Ga asiknya nih ya, gue lupa kalo ini di bagian tengah swedia, yang posisinya lebih utara dari stockholm, singkat kata, maghrib dan matahari terbenamnya lebih telat. Sekitar jam 1040 kalo gasalah, tapi bismillah, gue putuskan pake jam stockholm aja, karena satu dan lain hal. Selamat berbuka ! omnomnomnomnom. Makan roti, rendang yang dibawa dari buka bersama di kedubes kemarin, dan coklat. Air putih dari danau. Segeeeerrr ! Kami langsung tidur setelah buka puasa dan makan bareng.

berkeliling di taman

Bangun jam 9 pagi, kami sikat gigi dan langsung jalan. Liat peta, kami lingkarin tujuan kami hari ini yaitu dua misi lagi dari tiga. Titik tertinggi di Fulufjället (1042m) yaitu sekitar 10 km ke barat dari kabin kami. Mulai jalan deh. Sayangnya langit putih dan ngga biru. Masih syukurlah karena ngga ujan. Ternyata taman nasional ini beda sama Tyresta, taman nasional kesukaan gue di Stockholm, dimana pohon semua isinya. Disini lebih ke savana stepa gitu. Pohonnya pendek-pendek. Dan nyamuk nya banyak ! untung danau juga banyak jadi asik.

danau dan langit biru
Saking banyak nya danau, kadang kadang kok ini jalan yang kami ikutin ngelewatin danau bagian airnya. Apa ini bagian dari menu jalan di taman ini, atau gimana nih. Akhirnya setelah susah payah melewati daerah berair, akhirnya kami kena juga sepatu basah setelah kejebak nginjek tanah yang ambles ke air. Dan kalau tadinya kami bersyukur mendung tapi ngga ujan, eh ga lama kemudian ujan. Amsyoong. Tapi tenang, abang udah siap dengan ujan. Plastik pun dikeluarkan untuk nutupin kepala. Tapi untung aja ujan disini sama kaya di Stockholm, ga pernah deras.

Di jalan kami liat burung yang kayanya belum pernah gue liat sebelumnya. Atau karena gue memang kurang merhatiin dunia perburungan? Apapun, yang penting enak ada mahluk lain, jd rame. Sempet juga ngeliat hewan yang kayak ayam tapi lari nya cepet banget. Apa sih itu? 

Jalanan udah mulai hilang tanda jalan dan kami harus mengira ngira sendiri dimana letaknya si bukit ini. Ga susah sih, ada arah dari matahari, dan juga bukit tertinggi kan keliatan dari tingginya. Kami naik keatas nerobos rerumputan yang ga dikasih jalan. Karena gada jalan, gerakan jadi lebih lambat. Karena gerakan lebih lambat, nyamuk dengan enak menyantap kami. Nah disini gue belajar lagi, dalam hal apapun itu, selalu ada aja yang bisa kita syukuri. Dalam hal ini, gue bersyukur nyamuk sini itu dodol. Mereka ga lari kalo ditepok, men. Ga lari ! jadi pasrah dan pasti kena. Gue sama pablo membuktikan ulang dengan menepok dengan super pelan, kaya lo mau colek temen lo, iya sepelan itu. Dan tetep aja dia ketepok. Haha. Jauh banget sama nyamuk indo yang Jet Li juga kerepotan nepoknya.

kabin Horsjön
Diatas bukit gue dan Pablo istrahat sebentar. Anginnya enak banget. Bikin keringet cepet ilang. Abis dia makan roti dan minum, kami balik lagi rutenya, karena misi kedua udah selesai dan misi terakhir, itu lokasinya berlawanan sama arah kami. Karena jalannya sama dengan pas pergi, kami uda tau dimana jalan jalan jebakan yang jeblos ke air. Jadi lebih profesional. Mantap.

Sampai di satu kabin di Hörsjon, kami ngintip didalamnya. Ternyata ada orang. Hiker yang lagi istirahat juga. Kami masuk dan menyapa. Ga oke nya, mereka lagi nyeduh coklat panas. Dan gue lagi puasa dan itu masih jam 13 siang. Buka puasa masih 9 jam lagi.

Pasangan itu dari amerika. Nardy dan Brant. Gue kagum sama cerita cerita mereka. Ini rupanya trip mereka yang ke 5 ke swedia, khusus untuk hiking di rute Kungsleden. Rute Kungsleden itu rute hiking terpanjang di Swedia, sekitar 2000 km, dari Abisko, di Swedia utara, sampe Dalarna selatan. Tapi Nardy dan Brant membagi jadi 5 trip, biar lebih enjoy katanya. Setiap trip mereka sekitar 3 minggu. Dan umur mereka itu 50 an lebih. Nebak sih, dari cerita mereka yang bilang gini, ”rumah pertama yang kami beli, 30 tahun lalu, 2 tahun abis kita nikah”, nah coba deh, nikah kan mungkin paling cepet umur 22, berarti sekarang mereka 52. Hiking 3 minggu dengan tas yang makjinang itu carriernya kayanya 80 liter deh.
Pablo, Nardy dan Brant

Setelah ngobrol banyak, ga kerasa sejam berlalu. Mendung yang tadinya bikin ujan juga sekarang jadi terang lagi. Kami pamit dan nerusin perjalanan kami. Udah jalan sekitar 5 jam lebih. Lumayan juga. Dari Hörsjon menuju area air terjun lagi karena konon si Pohon Tertua juga ada disekitar atas air terjun itu. 

Pablo mulai keliatan capek, gue juga. Dan mencari cari sesuatu yang masih kurang jelas itu ga mudah dalam keadaan gini. Tapi kami lanjut. Soalnya gada jalan jelas menuju si Pohon, emang sengaja disembunyikan juga kan. Kami beberapa kali liat peta lagi dan lagi. 
bang atu ketemu si pohon 9550 tahun

Tapi begitu ketemu, kami seneng banget. Akhirnya. Pohonnya ngga keliatan tua sama sekali, tapi ada pagar kecil disekitarnya. Gue inget yang ditulis artikel tentang pohon ini, katanya jauh dibawah tanah dan batu, si pohon ini bisa meng-klon dirinya sendiri setiap mau mati, sekitar tiap 600 tahun sekali. Makanya dia bisa hidup sejak 9550 tahun lalu. Hebat ya. Jeprat! Jepret! Setelah 3 misi selesai semua, dan kaki pegel, kami langsung cari jalan terdekat balik ke Kabin.

Jam 6 sore sampe kabin dengan tergopoh-gopoh. Enak banget rasanya buka sepatu setelah sampe. Kaki rasanya uda nangis kali itu. Fiuh. Langit bagus bagusnya, biru dan berawan. Gue memutuskan untuk mandi, pasti seger kena air dingin, trus tidur sebentar sambil nunggu buka. Karena ga mau bikin air danau kotor, gue pake ember, mandi deket rumput-rumput. Airnya lebih dingin dari perkiraan, tapi justru bikin lebih seger. 

Abis itu langsung berbaring manis di kasur. Aah enaknya selimutan. Tapi dengan keadaan kaki pegel gini, tidur ga mudah juga ya. Gue coba trik andalan gue : bayangin suasana tenang di pantai. Berhasil tidur satu jam setengah dan bangun jam 9. Sebelum buka puasa, ada 2 orang yang datang juga ke kabin kami. Pasangan dari jerman. Ngobrol ngobrol sama mereka sambil bikin teh. Buka puasa emang makan paling enak sedunia ya. Walaupun Cuma roti, biskuit, sama teh. Gue sama Pablo membahas taktik untuk pulang besok. Bis kami dari Särna itu jam 1140. jarak dari Särna ke pintu taman nasional itu 31km, dan dari pintu ke kabin ini 4km. Dengan kecepatan rata-rata jalan manusia yang 5km per jam, kami setidaknya harus jalan jam 430 pagi. Mungkin juga di jalan ada mobil lewat dan kami bisa nebeng. Pablo setuju. Jadi kami langsung tidur ga lama setelah itu.

Fulufjället ke Särna

Gue bangun duluan sekitar jam 425 pagi. Pablo bangun 5 menit kemudian. Kami beberes, dan sikat gigi. Lalu mulai jalan kaki. Ini satu keuntungan ada di daerah Utara, sejak jam 3 pagi itu matahari uda terang, jadi jalanan uda keliatan. Kabut kabut masih ada sedikit diantara pohon-pohon atau diatas danau. Gue menarik hirupan udara sedalam-dalamnya, bersyukur gue bisa menghirup oksigen bersih yang bikin sehat.

pemandangan di depan kabin
Turun dari gunung nya 3,5km baru sampai di pintu depan Taman nasional. Ngga ada pergerakan orang atau mobil mobil, iya maklum ini masih subuh buat siapapun. Asiknya, kami jadi bisa jalan ditengah jalan. Ngga bisa jalan santai, karena sekitar 6 jam dari sekarang, bis kami uda jemput di Särna, yang jauhnya masih 31km lagi.

Jalannya menaik dan menurun, walaupun aspal halus sehingga lebih mudah dari ketika jalan kemarin di jalanan taman nasional yang berbatu. Tapi kali ini tergolong tes ketahanan, karena kami ngga bisa berhenti atau memelankan jalan. Pemandangannya lumayan juga. Matahari di timur bikin langit di Barat jadi biru segar. Segarnya bikin senyum. Kadang lewatin sungai dibawah jalan kami, ada juga danau besar di sisi kanan. 

Dua mobil pertama yang lewat itu berlawanan arah. Ketika kami setengah perjalanan, ada mobil pertama yang searah dengan kami. ”Kita coba nebeng ngga?” gue nanya Pablo. Dia agak ragu, tapi ga menjelaskan kenapa. Gue kayanya tau, dan gue juga sebenarnya penasaran untuk menyelesaikan rute terakhir ini, menu penutup petualangan ini. Kami ga jadi mengacungkan jempol ke arah jalan. Tetap jalan sampai tidak sanggup lagi.

Bis kami jam 1140 di Särna. Dan jam 1100, kami sudah di halte itu, terkapar terduduk di jalannya, punggung bersandar di dinding sebuah toko. ”Aaarrrgghh sampe juga!” kata gue. Pablo juga bilang kakinya sakit banget. Di bis dan kereta pulang, uda jelas kami tidur aja kerjaannya, kecapean.

Cape tinggal istirahat. Cerita seru, itu didapat kalo kita jalan sampe ga bisa jalan.