Lintas Rasa Lombok Sumbawa

Injak tanah nya
Hirup udara nya
dan Rasakan cinta nya

Tulisan ini tentang perjalanan lintas Lombok Sumbawa demi mendirikan sebuah perpustakaan di kaki gunung Oibura di bawah gunung Tambora.

Malam itu di satu kedai di ibukota Jakarta, gue dan temen-temen membahas rencana pendirian perpustakaan kecil di suatu daerah terpencil. Desa Oibura namanya. Letaknya di kaki gunung Tambora, di Sumbawa. Diskusi berlangsung serius tapi santai. Gue mendengar dengan seksama dan sesekali mengeluarkan pendapat.

" Siapa yang mau ikut ke Oibura ? " kata Diki, si pencetus gerakan.

Sebagai penggiat petualang yang belum banyak pengalaman bertualang, gue engga menunggu untuk mengacungkan tangan. Gue mau kesana. Lebih dari satu-dua alasan kuat. Gue belum pernah ke Lombok atau Sumbawa, gue mau menjelajah dan melihat apa yang ditawarkan disana. Dan gue selalu suka kegiatan-kegiatan sosial, terutama tentang pendidikan. Gue percaya membaca, belajar itu bisa membuka banyak pintu kesempatan. 

Beberapa minggu setelahnya, enam dari kami sudah ada di Mataram dan menyusun lebih dari 300 kilogram buku di dua Avanza yang kami sewa. Konon perjalanan ini akan memakan 24 jam untuk sampai ke desa Oibura. 

Kota Mataram keliatan tenang dan nyaman, ketika gue liat dari pesawat sebelum mendarat. Gue merasa seperti itu juga ketika melintasi jalan-jalan kota Mataram di pagi hari itu. Dengan intensitas matahari yang pas juga, serta udara yang belum tercemar polusi.

Sisi kiri kanan jalan dari kota Mataram menuju pelabuhan Kayangan dihiasi dengan sawah hijau terang dan di sisi utara terlihat gunung Rinjani. Gue yang tadinya berencana tidur, jadi hanyut sama pemandangannya, ketenangan jalannya, dan engga jadi tidur. 

Nilai pemandangannya mengganda ketika ferry dari Kayangan hampir sampai di pelabuhan Poto Tano di Sumbawa. Ujung ujung daratan yang kelihatan sebelum daratan besarnya, menyajikan bukit hijau rerumputan dengan hewan-hewan yang sedang menikmatinya juga. Domba dan beberapa kuda terlihat sedang makan. Gue sedikit lagi jadi mau bilang ke temen-temen, apa abis berlabuh kita bisa main ke bukit itu sebentar?

Pelabuhan Poto Tano. Dari celoteh4ti.wordpress.com/


Tapi kemudian gue sadar kalo kemungkinan besar, sepanjang perjalanan akan ada pemandangan yang sama. Dan gue bener ! bukan cuma bukit ijo alus, ada juga danau besar yang merefleksikan langit biru dengan awan-awan putihnya. Emm,,temen-temen, kapan kita berhenti nya?

Tapi karena jadwal kegiatan yang agak padat, Diki memutuskan untuk menunda berhenti kecuali untuk makan siang. Gue ngerti juga sih. Kami pun terus jalan.

Surga

Ketika sudah 20 jam kami mengemudi dan ketiga orang di setiap mobil sudah dapat giliran mengemudi semua dan semuanya sudah mengantuk, kami memutuskan untuk berhenti dan tidur. Kami engga begitu tahu ini dimana persisnya, tapi sudah tidak terlalu jauh dari tempat tujuan. Mungkin sekitar 8 jam lagi. Kami menepi dijalan yang tidak terlalu kecil. Mencoba memarkir dengan aman, walaupun sudah 4 jam terakhir kami tidak bertemu dengan kendaraan lain. Setelah mobil di parkir, gue keluar untuk merenggangkan badan. Saat itu jam 3 atau jam 4 subuh.

Bagian buminya memang gelap gulita dan tidak ada lampu. Tenangnya maksimum, terdengar suara jangkrik dan hewan lain. Dan kelihatannya kami ada di suatu padang, karena tumbuhannya tidak tinggi. Tapi ketika menengadah ke langit, kepala saya tidak turun untuk waktu yang lama.

Bintang bertaburan terlalu banyak untuk dihitung. Terlalu luas hingga ujung timur ke ujung barat. "Ini tempat apa?", gue nanya dalam hati. Menyebut nama tuhan lebih dari sekali. 

Pelukis mu agung.

Sambil berbaring dikursi belakang, kaca nya gue buka setengah sehingga pemandangan ajaib itu masih kelihatan sampai gue tertidur. Mungkin pemandangan sebelum tidur yang paling bagus yang pernah gue alamin.

Bangun sekitar jam 6 pagi, terkena sinar matahari yang belum lama juga terbangun dan menyorot seperti lampu super terang. Kami bangun hampir di waktu yang bersamaan. Pemandangan sekitar yang tadinya gelap gulita sekarang sudah terlihat jelas sekali. Kami tidak tau tempat seperti apa ketika kami berhenti tadi malam, tapi pagi ini, kami jelas memilih tempat yang lebih dari sempurna.

Sambil membuka pintu mobil, gue melongok keluar. Mengucek mata, sesekali memicingkannya. "Ini tempat apa sih?" gue nanya dalam hati sekali lagi. 

Padang rumput hijau terhampar didepan mata. Di sebelah barat dan disebelah timur kami. Di kedua sisi jalan. Langit biru cerah menjadi  atapnya. Pepohonan berukuran sedang tidak terlalu banyak, namun menjadikannya unik dan pemanis. Gunung Tambora berdiri kokoh di sisi timur laut. Kuda-kuda, domba-domba, sedang makan rumput dan tidak sadar akan kehadiran kami. Kerbau-kerbau sedang mandi di kubangan di belakang semak.

Indonesia tanah air beta.

Semua anggota perjalanan ini berdecak kagum. Gue sampe lari kearah domba-domba yang lagi makan. Lalu salto. Lalu tidur di rerumputannya. Terlalu menikmati, mungkin itu kata yang tepat. Ini lukisan yang menjadi nyata. Lukisan alam Sumbawa, bung !

Sampai di desa Oibura 6 jam kemudian, gue masih memikirkan pemandangan itu. Eh bukan, mungkin sampai sekarang, 2 tahun setelah perjalanan itu, gue masih bisa membayangkan dengan jelas.

Keramahan di kesederhanaan




Desa ini mungkin hanya punya 30 keluarga, listrik desa yang berasal dari genset dan dinyalakan hanya jam 7 sampai jam 9 malam saja, dan sinyal telepon sangat sulit didapat jika tidak naik ke dataran yang lebih tinggi, tapi semua penduduknya ekstra ramah. Anak-anak mengajak kami bermain. Warga desa bantu membantu membuat lemari kayu untuk tempat buku. Kepala desa yang humoris.

Rasa alamnya juga sangat kental disini. Tidak jauh dari desa, gue main sama anak-anak di Sori Sumba (sungai Sumba). Sungai kecil yang airnya bersih banget. Pemandangan langit yang penuh bintang lagi. Sesekali melihat ular kecil ketika jalan di malam hari. Dan udara dingin ala kaki gunung. Gue ngerasa beruntung banget bisa dapet kesempatan datang kesini.

Dalam 3 hari, pembuatan lemari, pengecatan, pengaturan buku sudah diselesaikan, kami pun langsung membuat perayaan kecil bersama kepala desa. Mengajar selama beberapa jam di SD negeri Oibura. Sekolah sederhana yang punya 5 ruang kelas, untuk kelas kelas 1 hingga kelas 6. Lalu sore nya kami berpamitan. Karena misi sudah selesai.

Lombok dan pesonanya

Kembali dari misi yang berjalan lancar, semua anggota tim pulang, ada juga yang melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Tapi gue memutuskan untuk tetep di Lombok dan mencicipi rasa-rasa bahagia yang ada disana. Dalam 5 hari, gue main ke Kuta Lombok, salah tau gugusan pantai terindah yang pernah gue datengin. Berdiri di Tanjung Aan dan menatap pasir putih dan toska laut didepannya. Tidak mungkin untuk tidak bersyukur, ditempat seperti ini.

Ketiga saudara kembar Gili Terawangan, Gili Meno dan Gili Air juga pesona yang sama menawannya. Terawangan itu ramai tapi terjaga sekali kebersihannya. Bermain bersama penyu di Turtle Point. Lalu duduk santai dibawah pohon di pantai di Gili Air. Dimana jumlah wisatawannya jauh lebih sedikit sehingga ketenangannya lebih terasa.

Lombok Sumbawa membawa banyak cerita. Itu pun belum mendaki gunung Rinjani, atau melihat pink beach yang ada di Lombok Timur. 

Satu yang pasti, ini tidak akan jadi sekali dan terakhi kalinya gue dateng kesana.


0 comments: